About Us

Vision

Menjadi penyandang disabilitas berarti menjadi rentan. Namun, pada hakikatnya, setiap manusia memiliki kerentanannya masing-masing. Kerentanan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan disadari sebagai bagian dari keberadaan kita sebagai manusia. Tidak ada yang benar-benar sempurna, tidak rentan, dan mampu berdiri sendiri. Kita semua saling bergantung satu sama lain.

Seperti halnya seorang difabel yang membutuhkan kursi roda atau kruk, kita semua pun memerlukan orang lain dalam kehidupan. Kita butuh kendaraan untuk bepergian, pohon untuk berteduh dan bernapas. Di sisi lain, pohon memerlukan tanah untuk tumbuh, dan tanah membutuhkan cacing sebagai pengurai yang menjaga kesuburannya. Semua saling terhubung, saling menopang, dan menciptakan keseimbangan bersama.

Karena itulah, kita perlu membangun harmoni, di mana setiap elemen saling melengkapi, saling peduli, dan menerima satu sama lain sebagai bagian dari satu kesatuan. Dengan menjauhi eksploitasi dan dominasi, kita dapat menciptakan ekosistem yang seimbang dan inklusif—bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh makhluk di alam semesta.

Sayangnya, realitas hari ini justru menunjukkan hal sebaliknya. Sistem yang ada semakin dominatif dan eksploitatif, terutama akibat ulah manusia. Kita hidup di zaman Antroposen, di mana manusia menjadi faktor utama penyebab ketidakseimbangan ekosistem dunia. Bukan hanya alam yang menjadi korban kerusakan besar-besaran, tetapi juga sesama manusia. Sistem ini cenderung menindas kelompok yang lebih lemah dan meminggirkan kelompok-kelompok rentan seperti difabel, komunitas adat, pemeluk agama minoritas, dan masyarakat miskin.

Keseimbangan bumi pun terganggu. Dominasi manusia atas alam menyebabkan eksploitasi sumber daya secara besar-besaran hingga menimbulkan kerusakan. Krisis iklim menjadi bukti nyata bahwa keseimbangan tersebut mulai goyah, merugikan banyak makhluk yang juga bergantung pada ekosistem ini.

Berangkat dari realitas ini, lembaga kami hadir untuk menyediakan ruang kritis bagi masyarakat. Kami berupaya memproduksi pengetahuan dan menciptakan ruang dialog yang mendorong pemulihan keseimbangan ekosistem kehidupan.Namun, kami menyadari keterbatasan kami—baik dalam hal dana, tenaga, maupun pemikiran. Kami bukanlah pihak yang sempurna, kami hanyalah manusia, sebagaimana mahluk yang lain juga memiliki kekurangan. Meski demikian, kami memiliki tekad yang kuat untuk terlibat dalam proses perubahan demi masa depan yang lebih baik bagi kehidupan dan ekosistem dunia. Daripada berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa, kami memilih untuk berkontribusi—meskipun hanya sedikit. Karena kami percaya, every little effort counts. Ya, sedikit terlibat.

Vision

Being a person with a disability means being vulnerable. However, in truth, every human being has their own vulnerabilities. Vulnerability is not something to be feared, but rather something to be acknowledged as part of our existence as humans. No one is truly perfect, invulnerable, or capable of standing alone. We all depend on one another.

Just like a person with a disability may need a wheelchair or crutches, all of us also need others in our lives. We need vehicles to get around, trees to shelter and give us air to breathe. On the other hand, trees need soil to grow, and soil needs worms to act as decomposers that maintain its fertility. Everything is interconnected, supporting one another in a shared balance.

That is why we need to build harmony—where each element complements, cares for, and accepts one another as part of a unified whole. By avoiding exploitation and domination, we can create a balanced and inclusive ecosystem—not just for humans, but for all living beings in the universe.

Unfortunately, today’s reality shows the opposite. The systems in place are becoming increasingly dominant and exploitative, largely due to human actions. We live in the Anthropocene era, where humans have become the main factor behind the imbalance of the world’s ecosystems. Not only nature has become the victim of massive destruction, but so have our fellow human beings. This system tends to oppress the weaker groups and excludes marginalized communities such as persons with disabilities, Indigenous peoples, religious minorities, and the poor.

The Earth’s balance is now disrupted. Human dominance over nature has led to large-scale exploitation of resources, resulting in severe damage. The climate crisis is undeniable proof that this balance is faltering, harming many other beings who also depend on this ecosystem.

In response to this reality, our organization exists to provide a critical space for society. We strive to produce knowledge and create platforms for dialogue that promote the restoration of life’s ecological balance, justice and inclusivity.

However, we are aware of our limitations—whether in funding, energy, or ideas. We are not perfect; we are merely human, with our own flaws and shortcomings. Even so, we are driven by a strong determination to be part of the change—for a better future for life and the world’s ecosystems. Rather than remaining silent and doing nothing, we choose to contribute—even if only in small ways. Because we believe that every little effort counts. Yes, Sedikit Terlibat—that’s what we call in Indonesian language.

id_IDIndonesian