

Judul: Empire of Normality: Neurodiversity and Capitalism
Tahun Terbit: 2023
Penerbit: Pluto Press
Halaman: 224
ISBN: 0745348688, 9780745348681
Melalui bukunya, Empire of Normality, Robert Chapman menelusuri hubungan antara kapitalisme dan konsep normalitas. Buku ini mengungkapkan bagaimana istilah “pikiran yang normal” bukanlah fakta alamiah atau sains, akan tetapi sebagai sebuah konstruksi pemahaman yang berkembang dalam sistem ekonomi kapitalisme sepanjang sejarahnya.
Perkembangan historis normalisme
Chapman menelisik sejarah Yunani kuno yang menempatkan kondisi penyakit atau kelainan sebagai sebuah ketidakseimbangan komunal. Ini tentu berbeda dengan sudut pandang medis modern yang menganggap penyakit sebagai patologi individual. Perbedaan sudut pandang ini menunjukkan bahwa ilmu kedokteran mengalami banyak perubahan signifikan pada ranah epistemologis, yang mana kedokteran modern menganalogikan tubuh seperti susunan partisi bangun ruang atau cara kerja mesin secara mekanis. Konsekuensinya, kondisi disabilitas juga dianggap sebagai persoalan yang sangat individual dan harus disembuhkan secara individual pula.
Dengan perkembangan populasi yang sedemikian pesat, hingga peralihan dari feodalisme ke kapitalisme, kebangkitan eugenika pada abat 19 hingga neoliberalisme pada abad ini, Chapman dengan ambisius ingin menunjukkan bahwa normalisme adalah sudut pandang yang terkonstruksi bukan di atas argumentasi saintifik dan alamiah. Melalui jalan memutar pada Sejarah yang Panjang itu, dengan berbekal sudut pandang materialisme historis, Chapman mendefinisikan “Empire of Normality” dengan “aparatus relasi material, praktik sosial, program penelitian ilmiah, mekanisme birokrasi, ekonomi, dan prosedur administratif yang muncul dari disposisi fundamental sistem kapitalis, hingga akhirnya mencapai tahapan perkembangan tertentu”. Definisi ini tentu sangat kompleks. Namun jelasnya, Chapman ingin menunjukkan bahwa normalisme banyak didasarkan pada kapitalisme dan berbagai situasi yang diciptakan oleh sistem ekonomi tersebut.
Penggunaan materialisme historis oleh Champan menunjukkan bagaimana disabilitas muncul secara tandem dengan kapitalisme, sebagai nilai yang terus berkembang dengan diukur melalui kapasitas untuk bekerja mendapatkan penghasilan dan memproduksi hasil bagi orang lain. Pergeseran pandangan ini menandai satu titik di mana masyarakat pada akhirnya melihat tubuh dan pikiran sebagai mesin produksi. Chapman mengidentifikasi Francis Galton sebagai pendiri paradigma patologi (pathology paradigm) yang mengasumsikan bahwa hanya ada satu cara yang betul bagi fungsi tubuh dan pikiran. Pengukuran melalui paradigma patologi ini berakhir pada justifikasi mana yang berfungsi dan mana yang tidak. Yang tidak sesuai dengan paradigma patologi akan dianggap “sakit” dan tidak produktif.
Paradigma Patologi dan Kapitalisme
Elemen utama dari analisis Chapman adalah eksplorasi “paradigma patologi”, sebuah konsep yang dipinjam dari Nick Walker. Paradigma ini mengasumsikan bahwa fungsi mental dan kognitif bersifat individual dan didasarkan pada kemampuan alamiah yang dapat diurutkan berdasarkan norma statistik di seluruh spesies. Chapman berpendapat bahwa masalah utamanya bukanlah paradigma patologi itu sendiri, tetapi bagaimana “logika kapitalis dan paradigma patologi saling memperkuat satu sama lain, sehingga tidak ada kemungkinan pembebasan neurodivergen tanpa perubahan sistemik yang mendalam”.
Buku ini mengkritik metafora tubuh sebagai mesin, dan baik keanekaragaman saraf maupun penyakit mental sebagai “mesin yang rusak”. Melalui lensa kritis ini, Chapman mengungkapkan bagaimana kapitalisme secara sistematis mengkategorikan kondisi neurologis tertentu sebagai disabilitas bukan karena keterbatasan yang melekat, tetapi karena kondisi tersebut tidak sesuai dengan kerangka kerja kapitalis dalam hal produktivitas dan efisiensi.
Dampak Kapitalisme terhadap Orang-orang Neurotipikal dan Neurodivergen
Chapman menyajikan argumen tentang bagaimana kapitalisme memengaruhi individu-individu neurotipikal dan neurodivergen. Bagi pekerja neurotipikal, kapitalisme memberlakukan bentuk-bentuk keterasingan yang ekstrem, sementara pekerja yang memiliki potensi neurodivergen sering kali dimasukkan ke dalam apa yang disebut Chapman sebagai “kelas surplus”. Hal ini menciptakan apa yang Chapman gambarkan sebagai ‘ikatan ganda’, yaitu dihargai sebagai pekerja dan kemudian dieksploitasi, atau dikategorikan sebagai surplus dan kemudian didiskriminasi.
Penghancuran sistematis terhadap struktur pendukung seperti keluarga besar dan komunitas lokal telah mendorong penyandang disabilitas untuk bergantung pada negara modern, yang pada dasarnya enggan untuk mengakui kemanusiaan penyandang disabilitas secara penuh. Sebaliknya, negara telah membangun dirinya sendiri di sekitar cita-cita orang ‘normal’ yang dibayangkan dapat bekerja untuk mendapatkan upah dan dengan demikian mendapatkan hak untuk mendapatkan dukungan dari negara jika terjadi kondisi disabilitas sementara.
Neoliberalisme dan Pelemahan yang Semakin Intensif
Analisis Chapman mengenai neoliberalisme menggambarkan bagaimana pergeseran hubungan antara kapitalisme, negara, dan normalitas menghasilkan bentuk-bentuk pelumpuhan yang baru. Ketika kaum neoliberal berkuasa di banyak negara pada 1980-an, mereka menyerang negara kesejahteraan, menghasilkan apa yang dapat disebut sebagai “pelumpuhan massal”.
Dalam pengamatannya, Chapman berpendapat bahwa spektrum autisme terus meluas karena semakin banyak orang yang tidak memiliki “kemampuan sosial, komunikatif, dan pemrosesan sensorik yang dibutuhkan [oleh neoliberalisme]”. Hal ini menunjukkan bahwa kapitalisme tidak hanya meminggirkan individu-individu yang berbeda secara neurodivergen; kapitalisme justru menciptakan mereka dengan mengekstraksi kemampuan-kemampuan di luar batas-batas tubuh manusia.
Kritik terhadap Sistem Psikiatri dan Kesehatan Mental
“Empire of Normality” menawarkan posisi yang kompleks tentang psikiatri dan sistem kesehatan mental. Sembari menantang psikiatri itu sendiri, Chapman juga menolak psikiatri kritis kontemporer dan perspektif terkait, menggambarkan semuanya sebagai anti-psikiatri dan menganggapnya sebagai “reaksioner dan ketinggalan zaman”.
Chapman mengkritik terapi perilaku, terutama yang dipaksakan pada orang dengan autisme untuk mendorong mereka menjadi normal. Buku ini mencirikan psikiatri sebagai “bentuk kontrol negara” di mana psikiater menentukan siapa yang sehat dan siapa yang tidak, dengan menggunakan kekuasaan yang sering kali disalahgunakan. Kritik ini meluas ke keyakinan optimis pada 1990-an bahwa obat-obatan massal akan mengatasi penyakit mental, dan kemudian beralih ke CBT dan perhatian penuh sebagai pengobatan, dengan catatan bahwa tingkat penyakit mental tetap tinggi.
Gerakan Neurodiversity dan Kemungkinan untuk Pembebasan
Chapman menempatkan kemunculan gerakan neurodiversitas dalam konteks “Empire of Normality”, mengartikulasikan cara-cara di mana gerakan ini dapat dikooptasi oleh logika kapitalis. Buku ini berargumen bahwa politik radikal neurodiversity diperlukan tidak hanya untuk orang-orang dengan neurodivergent, tetapi juga untuk pembebasan kolektif.
Dengan memberikan pemahaman historis tentang situasi kita saat ini, Chapman berharap kita dapat lebih mampu mengembangkan dan bekerja untuk alternatif yang lebih membebaskan. Buku ini menunjukkan bahwa pembebasan neurodivergen adalah mungkin, tetapi hanya dengan menantang logika terdalam dari kapitalisme.
Chapman menerapkan dialektika Marx untuk memahami bagaimana kapitalisme membutuhkan neurodiversity, namun merendahkan dan berusaha mengendalikannya demi produktivitas kapitalis. Buku ini menekankan contoh-contoh kolektivis dan membangun kesadaran massa sebagai cara untuk berpikir dan bertindak demi masa depan pasca-kapitalis.
Kesimpulan
“Empire of Normality” menyajikan pertimbangan ulang yang radikal mengenai hubungan antara neurodiversity dan kapitalisme. Melalui analisis historis Marxis, Chapman mengungkapkan bagaimana pemahaman kita tentang normalitas telah dibentuk oleh tuntutan kapitalis dan bagaimana patologisasi neurodiversity melayani kepentingan kapitalis.
Buku ini menantang para pembaca untuk mengenali bagaimana kapitalisme telah mengubah pemahaman kita tentang tubuh dan pikiran manusia menjadi mesin produktivitas, dan bagaimana transformasi ini secara sistematis telah melumpuhkan manusia sejak abad ke-19. Chapman berargumen dengan meyakinkan bahwa untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh individu-individu neurodivergen tidak hanya membutuhkan reformasi dalam sistem yang ada saat ini, tetapi juga tantangan mendasar terhadap logika kapitalisme itu sendiri.
Dengan mengungkap kondisi historis dan material yang telah menciptakan pemahaman kita saat ini tentang normalitas dan neurodiversity, “Empire of Normality” menawarkan kerangka kerja teoretis untuk anti-kapitalisme neurodivergen dan menunjuk ke arah kemungkinan pembebasan kolektif yang mencakup individu-individu neurotipikal dan neurodivergen.

